Maret 2013

setiap kamis pukul 6

safari qolbu

kamis pagi

safari qolbu

IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) ialah organisasi mahasiswa Islam di Indonesia yang memiliki hubungan struktural dengan organisasi Muhammadiyah dengan kedudukan sebagai organisasi otonom. Memiliki tujuan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Manusia itu semuanya mati (perasaannya) kecuali para ulama yaitu:"Orang-orang yang berilmu. Dan ulama itu senantiasa dalam kebingungan kecuali mereka yang beramal. Dan yang beramal pun semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas dan bersih" KH Ahmad Dahlan
“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat. (HR Ahmad, Abi Daud, Ibn Majah)

Oleh : IMMawan Ilham Adhi Pangestu


Sejarah politik Indonesia lebih banyak diwarnai oleh salah paham atau bahkan paham yang salah. Dan kesalahan itu dimulai dari cara pandang kita melihat politik itu sendiri. Karena itu, efek kesalahan tersebut menjadi sangat mendasar.
Pada masa Orde Lama, politik ditetapkan sebagai “panglima.” Politik menjadi komando yang mempengaruhi segala dimensi kehidupan. Mereka yang tidak ikut dalam arusnya harus menyingkir atau disingkirkan. NASAKOM dan MANIPOL-USDEK, sebagai serangkaian gagasan, mungkin mengandung banyak hal penting dan menarik. Tetapi ia kemudian diperlakukan lebih sebagai slogan serta menjadi simbol betapa totalnya dimensi politik dalam kehidupan bernegara.
Politik sebagai panglima juga berlaku dalam bidang kehidupan lain, seperti kebudayaan dan kesenian. Garda terdepannya adalah LEKRA, organ Partai Komunis Indonesia yang siap mendukung pemberangusan bagi mereka yang berbeda. Di sini tak ada tempat untuk musik ngak-ngik-ngok atau musik “Barat” lainnya yang dianggap tidak sesuai dengan garis politik-kebudayaan pemerintah.
Pendek kata, politik sebagai panglima harus merasuk dan merambah ke semua dimensi kehidupan. Bahkan urusan percintaan pun ditentukan oleh politik. Walhasil, pada zaman Orde Lama banyak terjadi patah hati dan putus cinta karena politik. Sebabnya? Ternyata sang calon mertua partainya lain. Kalau tak percaya, tanyakan saja kepada kakek atau nenek anda yang pernah mengalami zaman itu. Kalau ditulis dalam novel pendek, mungkin cukup banyak cerita ala Siti Nurbaya yang dapat dikumpulkan tentang cinta yang putus karena perbedaan garis politik.
Pada zaman itu, agak sulit bagi pemuda Masyumi untuk kawin dengan pemudi PKI. Bahkan bagi dalam aliran yang sama pun, sekat politik juga terasa: “anak” Masyumi harus berusaha ekstra keras untuk mencari jodoh di kalangan “anak” NU. Begitu juga dengan “anak” PNI dan PSI. Kalaupun ternyata ada pemuda-pemudi yang bisa kawin mengatasi sekat-sekat politik tersebut, mereka harus agak nekat, dan jalan pintasnya adalah kawin lari.
Singkatnya, politik bukan lagi hanya satu bagian dalam kehidupan, tetapi sudah merasuk dan mengatur aspek-aspek pribadi, seperti selera musik dan pasangan hidup, yang normalnya tidak masuk dalam wilayah kekuasaan. Situasi seperti itu berubah dengan tumbangnya Orde Lama dan berkuasanya Orde Baru. Zaman bergerak: paham dan pengertian tentang politik pun berubah bersamanya.
Jargon “politik adalah panglima” tidak terdengar lagi. Sebagai gantinya muncul pandangan yang melihat politik seperti monster -- atau hantu blau, seperti kata orang Medan. Politik adalah sesuatu yang harus dihindari. Jangan dekat-dekat dengan politik kalau ingin selamat.
Karena itu di kampus diadakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) untuk “membebaskan” mahasiswa dan pemuda terpelajar dari pengaruh politik. Untuk itu ada pula Badan Koordinasi Kegiatan Kemahasiswaan (BKK) untuk mengontrol agar kegiatan kemahasiswaan tidak tercemar oleh kotornya tangan-tangan politik.
Demikian pula dengan desa. Desa harus disterilkan. Sawah adalah tempat mencari makan, bukan untuk membangun basis dan memobilisasi kekuatan tandingan, seperti yang pernah direncanakan oleh PKI di awal dekade 1960an. Pendeknya, Politik tak boleh masuk desa, kecuali golongan yang bersifat kekaryaan. Jangan harap menjadi kepala desa kalau terlibat dengan politik. Birokrasi pemerintahan harus fokus “berkarya” dan tidak boleh ikut aktivitas politik apapun.
Memang tak ada laporan soal putus cinta karena politik selama Orde Baru. Namun, jangan bermimpi menjadi PNS (pegawai negri sipil) kalau dekat dengan politik. Jika mau jadi pengusaha sukses dan memenangkan tender proyek pemerintah, jangan neko-neko. Berpartai? Monggo mawon: tapi jangan coba-coba bergabung dan menjadi pelaku aktif dari partai yang menjadi “lawannya” partai pemerintah.
Kalau mengingat semua itu, kita patut bersyukur bahwa zaman Orde Lama dan Orde Baru sudah lewat. Kita berharap, jarum jam tidak akan berputar balik. They have gone into the dustbin of history – let them pass and never to return. Sekarang kita punya kesempatan untuk meluruskan salah paham dan paham yang salah tentang politik. Dalam era demokrasi ini jangan lagi kita memandang politik sebagai panglima ataupun sebagai hantu blau. Sudah saatnya kita menganggap politik sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.
Dalam demokrasi, politik hanyalah salah satu dimensi kehidupan warga negara di tengah begitu banyak dimensi kehidupan lainnya. Ada dimensi ekonomi, sosial, budaya. Ada dimensi sportifitas, dimensi spiritual, bahkan ada pula dimensi romantikanya, seperti cinta dan pilihan pasangan hidup. Masing-masing warga negara bebas menentukan pilihan kehidupan, ekspresi kemerdekaan, dan pencarian kebahagiaan masing-masing. Di Amerika Serikat, pengertian ini terpatri dengan baik dalam semboyan di konstitusi mereka: life, liberty, and the pursuit of happiness.
Dalam paham ini terbuka pilihan bagi semua orang. Bagi yang ingin berkecimpung dalam dunia politik, termasuk menjadi kandidat dalam pemilu, silakan saja. Bagi yang ingin terlibat dalam politik tetapi hanya sebatas mendukung dan memilih, silakan pula. Mau menjadi “apatis”, tidak mau terlibat dalam urusan politik, bahkan tidak ingin memilih? By all means, sejauh tidak mencelakakan atau mengancam hak orang lain, lakukan apa yang anda anggap terbaik buat anda. Live and let live, inilah kata-kata kuncinya. Anda hidup dengan cara dan pilihan anda sendiri, dan biarkan orang lain juga dengan cara dan pilihan mereka masing-masing.
Sekali lagi, politik hanyalah salah satu dimensi kehidupan. Yang ingin fokus berdagang, silakan. Mau menjadi pekerja profesional, monggo saja. Tentara, seniman, olahragawan dan sebagainya: semua ini adalah pilihan hidup yang sama sahnya. Begitu pula, yang mau kawin, ya kawin saja, asal suka sama suka dan tidak menabrak aturan serta etika kepantasan yang hidup dalam masyarakat.
Tak perlu kita bertengkar hanya karena politik dan pilihan hidup. Pilih mana suka. Partai atau kandidat: tak boleh ada paksaan dalam politik. Dalam demokrasi berlaku sebuah prinsip, bagimu partaimu, bagiku partaiku; bagimu pilihanmu, bagiku pilihanku. Kita bisa berbeda partai, tetapi kita tetap bisa berkawan dan ngopi bareng di warung pinggir jalan.
Warna berbeda-beda, tapi persahabatan jalan terus. Hari ini pilihan kita mungkin berbeda, tetapi pada pemilu depan pilihan kita mungkin saja sama. Sebaliknya, hari ini pilihan kita sama, kali depan mungkin sudah berbeda. Karena itu, kita tak perlu setel kenceng urusan politik. Lebih baik kita memandang politik sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Mudah-mudahan dengan begitu kita bisa hidup lebih berbahagia.


[...]

oleh : IMMawan Tsakib Faisal Akbar

        Sebagai sebuah kenyatan sejarah, begitu kata Kuntowijioyo, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan. Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol, dengan kata lain agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (parennial) dan tidak mengenal perubahan (absolut). Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat bekembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat.

        Islam yang hadir di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dengan tradisi atau budaya Indonesia. Sama seperti Islam di Arab saudi, Arabisme dan Islamisme bergumul sedemikian rupa di kawasan Timur Tengah sehingga kadang-kadang orang sulit membedakan mana yang nilai Islam dan mana yang simbol budaya Arab. Nabi Muhammad saw, tentu saja dengan bimbingan Allah (mawa yanthiqu ‘anil hawa, in hua illa wahyu yuha), dengan cukup cerdik (fathanah) mengetahui sosiologi masyarakat Arab pada saat itu. Sehingga beliau dengan serta merta menggunakan tradisi-tradisi Arab untuk mengembangkan Islam. Sebagai salah satu contoh misalnya, ketika Nabi Saw hijrah ke Madinah, masyarakat Madinah di sana menyambut dengan iringan gendang dan tetabuhan sambil menyanyikan thala’al-badru alaina dan seterusnya.

Interaksi Islam dengan budaya lokal

Berbeda dengan agama-agama lain, Islam masuk Indonesia dengan cara begitu elastis. Baik itu yang berhubungan dengan pengenalan simbol-simbol Islami (misalnya bentuk bangunan peribadatan) atau ritus-ritus keagamaan (untuk memahami nilai-nilai Islam).

Dapat kita lihat, masjid-masjid pertama yang dibangun di sini bentuknya menyerupai arsitektur lokal-warisan dari Hindu. Sehingga jelas Islam lebih toleran terhadap warna/corak budaya lokal. Tidak seperti, misalnya Budha yang masuk “membawa stupa”, atau bangunan gereja Kristen yang arsitekturnya ala Barat. Dengan demikian, Islam tidak memindahkan simbol-simbol budaya yang ada di Timur Tengah (Arab), tempat lahirnya agama Islam.

Demikian pula untuk memahami nilai-nilai Islam. Para pendakwah Islam kita dulu, memang lebih luwes dan halus dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang heterogen setting nilai budayanya. Mungkin kita masih ingat para wali –yang di Jawa dikenal dengan sebutan Wali Songo. Mereka dapat dengan mudah memasukkan Islam karena agama tersebut tidak dibawanya dalam bungkus Arab, melainkan dalam racikan dan kemasan bercita rasa Jawa. Artinya, masyarakat diberi “bingkisan” yang dibungkus budaya Jawa tetapi isinya Islam.

Sunan Kalijaga misalnya, ia banyak menciptakan kidung-kidung Jawa bernafaskan Islam, misalnya Ilir-ilir, tandure wis semilir. Perimbangannya jelas menyangkut keefektifan memasukkan nilai-nilai Islam dengan harapan mendapat ruang gerak dakwah yang lebih memadai. Meminjam pendapat Mohammad Sobary (1994: 32) dakwah Islam di Jawa masa lalu memang lebih banyak ditekankan pada aspek esoteriknya, karena orang Jawa punya kecenderungan memasukkan hal-hal ke dalam hati. Apa-apa urusan hati. Dan banyak hal dianggap sebagai upaya penghalusan rasa dan budi. Islam di masa lalu cenderung sufistik sifatnya.

Akan tetapi Kaitannya dengan ketegangan kreatif antara dakwah Islam dengan budaya lokal, Amin Abdullah dalam sebuah tulisan di Suara Muhammadiyah mengingatkan para pelaku dakwah sekarang ini (muballigh/da’i) untuk pandai memilah-milah mana yang substansi agama dan mana yang hanya sekadar budaya lokal. Metode dakwah al-Qur’an yang sangat menekankan “hik-mah dan mau’idzah hasanah” adalah tegas-tegas menekankan pentingnya “dialog intelektual”, “dialog budaya”, “dialog sosial” yang sejuk dan ramah terhadap kultur dan struktur budaya setempat. Hal demkian menuntut ‘kesabaran’ yang prima serta membutuhkan waktu yang cukup lama, karena dakwah ujung-ujungnya adalah merubah kebiasaan cara berfikir (habits of mind) masyarakat.

Lalu akhir-akhir ini kita melihat, misalnya, teman-teman yang mempunyai orientasi keagamaan Syiah juga menggunakan sumber daya budaya. Penulis tidak tahu apakah Haddad Alwi itu mengikuti paham Syiah atau tidak, tapi kalau saya lihat lagu-lagunya (misalnya lagu ana madinatul ‘ilm, wa-aliyyu babuha) sungguh luar biasa. Itu merupakan representasi dakwah Syiah yang memakai instrumen budaya dan hasilnya sangat efektif.

Wujud dakwah dalam Islam yang demikian tentunya tidak lepas dari latar belakang kebudayaan itu sendiri. Untuk mengetahui latar belakang budaya, kita memerlukan sebuah teori budaya. Menurut Kuntowijoyo dalam magnum opusnya Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, sebuah teori budaya akan memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut: Pertama, apa struktur dari budaya. Kedua, atas dasar apa struktur itu dibangun. Ketiga, bagaimana struktur itu mengalami perubahan. Keempat, bagaimana menerangkan variasi dalam budaya.

Persoalan pertama dan kedua, akan memberikan penjelasan mengenai hubungan antar simbol dan mendasarinya. Paradigma positivisme –pandangan Marx di antaranya– melihat hubungan keduanya sebagai hubungan atas bawah yang ditentukan oleh kekuatan ekonomi, yakni modus produksi.

Berbeda dengan pandangan Weber yang dalam metodologinya menggunakan verstehen atau menyatu rasa. Dari sini dapat dipahami makna subyektif dari perbuatan-perbuatan berdasarkan sudut pandang pelakunya. Realitas ialah realitas untuk pelakunya, bukan pengamat. Hubungan kausal –fungsional dalam ilmu empiris-positif– digantikan hubungan makna dalam memahami budaya. Sehingga dalam budaya tak akan ditemui usaha merumuskan hukum-hukum (nomotetik), tapi hanya akan melukiskan gejala (ideografik).

Dengan demikian, mengikuti premis Weber di atas, dalam simbol-simbol budaya yang seharusnya dipahami atau ditangkap esensinya adalah makna yang tersirat. Dari sini lalu dapat dikatakan bahwa dalam satu makna (esensi), simbol boleh berbeda otoritas asal makna masih sama.

Simbol Budaya dan Nilai Agama

Demikian pula dengan ritus-ritus semacam ruwahan, nyadran, sekaten maupun tahlilan. Semua pada level penampakannya (appearence) adalah simbo-simbol pengungkapan atas nilai-nilai yang diyakini sehingga dapat mengungkapkan makna ’subyektif’ (kata ini mesti diartikan sejauhmana tingkat religiusitas pemeluknya) dari pelakunya. Tindakan seperti ini ada yang menyebut sebagai syahadat yang tidak diungkapkan, tetapi dijalankan dalam dimensi transeden dan imanen.

Dengan kata lain high tradition yang berupa nilai-nilai yang sifatnya abstrak, jika ingin ditampakkan, perlu dikongkretkan dalam bentuk low tradition yang niscaya merupakan hasil pergumulan dengan tradisi yang ada. Dalam tradisi tahlilan misalnya, high tradition yang diusung adalah taqarrub ilallah, dan itu diapresiasikan dalam sebuah bentuk dzikir kolektif yang dalam tahlilan kentara sekali warna tradisi jawaismenya. Lalu muncul simbol kebudayan bernama tahlilan yang didalamnya melekat nilai ajaran Islam. Dan Kuntowijiyo merekomendasikan kepada umat Islam untuk berkreasi lebih banyak dalam hal demikian, karena akan lebih mendorong gairah masyarakat banyak menikmati agamanya.

Hanya saja yanag perlu dikoreksi adalah bahwa simbol-simbol (pengungkapan) tadi pada dasarnya adalah kata benda. Sedangkan menurut logika berpikir, kata benda atau simbol-simbol tadi yang sering diperdebatkan untuk kemungkinan disalahkan atau dibenarkan. Perdebatan simbol itu akan menggiring kita untuk kemudian memitoskan sesuatu.

Dengan kata lain, yang bisa dibenarkan atau disalahkan adalah pernyataan yang menyertai (kata benda tadi). Pendek kata, nyadran yang bagaimana? Ruwahan yang bagaimana? Sebab ritus-ritus tersebut, sebagai suatu simbol (pengungkapan) dapat direkayasa oleh pernyataan-pernyataan yang menyertainya. Nah, kita dapat menilainya (benar atau salah) dari pernyataan itu, bukan simbolnya. Memang itu tugas besar bagi pemikir maupun tokoh-tokoh Islam kita sekarang. Orang zaman dahulu menciptakan simbol agar perasaan kita tajam. Namun apa yang terjadi sekarang? Karena pengaruh pemikiran Barat (baca: positivisme) kita menangkap semua itu dengan visi dan paradigma positivisme. Sehingga makna yang tersembul dalam ritus-ritus itu dipahami dengan kacamata fiqih ansich. Artinya, simbol-simbol budaya yang hanya menjelaskan gejala, sering dihakimi supaya dapat menentukan hukum-hukum halal haram. Jadi sedikit banyak jelas kurang tumbuh.

Namun justru dari sinilah ummat ditantang untuk terus meningkatkan daya furqani. Dan runcingnya daya furqani itu hanya dapat dicapai oleh –seperti diungkap Damarjati Supadjar– orang yang mampu pubadiri atau megat-ruh.
[...]



Oleh: Tongku Marahakim
Semakin zaman bergerak maju, semakin terang manusia-manusia modern menemukan titik kegilaannya pada penggunaan segala produk barat yang kapitalistik. Bagai buah pinang dibelah dua, istilah “manusia modern” berbanding lurus dengan pola konsumtif segala produk modern. Tidak mengherankan jika hingga saat ini Amerika dan Eropa tetap dengan predikat Negara Maju-nya.dan Indonesia? Masih mapan dengan status Negara berkembang. Mengapa demikian? Bukankah pemerintah kita menjiplak teori pertumbuhan ekonomi dan merupakan anak emas IMF dan World Bank?
Pemerintah kita masih “istiqomah” dengan hal-hal diatas. Tetapi sialnya, sebagai kelas masyarakat menengah dan bawah, kita tidak mengetahui strategi “bayangan” pendukung teori diatas. Strategi itu adalah hegemoni seperti diungkapkan Gramsci dimana status “pengguna barang”sedari dini baik dalam lembaga pendidikan maupun media massa. Proses indoktrinasi akan pola konsumtif ini dijalankan oleh pemilik modal (Kapitalis) dan penguasa pada manusia Indonesia. Situasi dimana perasaan inferior dan ketergantungan pada suatu produk itulah yang disebut Hegemoni.
Lantas apakah itu salah? Toh peradaban barat nyatanya lebih maju dengan pola hidup yang sekarang kita tata? Mari kita bahas ini.
Awal kata peradaban adalah “adab” yang berarti sekumpulan tata nilai yang berlaku ditengah masyarakat. Maka sudah sewajarnya jika setiap bentuk masyarakat mempunyai standar peradabannya masing-masing. Menurut Syaria’ti, peradaban adalah suatu pencapaian dalam keintelektualan, seni dan nilai yang terbudayakan dalam masyarakat sehingga mewujudkan suatu tatanan masyarakat sejahtera. Inilah peradaban yang memang merupakan tahapan paling prestise semua lingkungan masyarakat.
Maka menjadi hal yang aneh jika saat ini kata peradaban itu hanya dimonopoli oleh para Kapitalis serta para bebek pengikut teorinya, tidak terkecuali kita yang masih menganggap suku Samin di Pati  dan fak fak di Papua sebagai manusia tidak beradab. Apa alasan kita berpendapat demikian? Apa hanya karena mereka tidak menggunakan tekhnologi canggih? Justeru dengan bertekhnologi semangat egaliter manusia terkikis, semangat diskriminasi yang didasarkan pada kepemilikan faktor produksi didalamnya tertanam kuat. Dengan tekhnologi, budaya mesianistik dan robotik tersebar menjamah pola pikir dan tingkah laku manusia dewasa ini.
Sekarang yang harus kita lakukan adalah mengcounter hegemoni, counter budaya dengan membuat suatu budaya tandingan. Budaya tandingan ini tidak dapat terlepas dari masyarakat kelas menengah yang berdiri independen diantara dua kelas lainnya. Budaya tandingan itu adalah budaya masyarakat dimana tidak ada lagi diskriminasi klas masyarakat, tidak ada lagi penindasan dan penghisapan. Budaya tandingan itu menjamin setiap individu mengekspresikan hak-nya dengan tetap memperhatikan norma dan aturan yang telah disepakati bersama. Budaya itu harus menjamin terciptanya suatu kondisi nature of state.

Pada akhirnya budaya itu membentuk peradaban yang  Manhaj A’la Nubuwwah, Baldhatun toyyibatun wa Robbun Ghofur, yangMadani. Budaya dan peradaban ini tidak akan terwujud selama struktur berfikir cendekiawan muslim masih konservatif, kaku dan eksklusif. Cendekiwan muslim yang juga adalah mahasiswa haruslah berfikir transformatif-emansipatoris, inklusif dan progresif. Mahasiswa dan Perguruan Tinggi sebagai medianya menjadi poros penggagas gerakan counter itu.
Orientasi Perguruan Tinggi kita harus berdiri indenpenden atas dasar kemanusiaan yang berarti menghilangkan segala bentuk alienasi (keterasingan) yang dapat mengganggu manusia dalam menemukan kearifan tertinggi darinya. Paradigma pendidikan kita haruslah kritis, memanusiakan manusia, tanpa berfikir tentang kepuasan harta, tahta dan seks. Pendidikan yang berorientasi hanya pada dunia kerja itulah yang disebut paradigma Liberal dan kita harus menentang itu. Kita harus menentang pendidikan yang berorientasi pada pasar tenaga kerja.
Perubahan yang kita tawarkan dapat melalui dua cara, lewat diplomasi-birokrasi atau lewat pencerdasan massa aksi. Jikalau dengan cara diplomasi-birokrasi kampus ini kita gagal, tidak ada cara lain selain mendidik massa aksi tentang konsepsi-konsepsi perubahan yang transformatif-emansipatoris. Kita harus mulai ini dari sekarang dengan diskusi-diskusi tematik dalam kampus, membangun wacana-wacana kritis, menjadikan pesan K.H Ahmad Dahlan yakni “jadilah guru sekaligus murid” yang dapat ditafsirkan sebagai “dosen tidak selalu pintar dan mahasiswa tidak selalu bodoh, dosen bukan dewa dan mahasiswa bukan kambing congek” sebagai mainset berfikir kita dalam dunia akademis ini. Ini langkah kongkrit kita, dan akhirnya “Mari lah Kita Menang”!

[...]


Oleh: Tongku Marahakim


Teruntuk kaoem boeroeh di seloeroeh dunia,
BERSATULAH”
Pidato pembuka Tan Malaka saat Komintern II, Soviet


Ali Syaria’ti, seorang intelektual muslim Iran yang hidup pada rezim otoriter Syah Iran, merupakan salah satu tokoh pencetus revolusi Iran. Ia adalah manusia rausyanfikr,intelektual tercerahkan yang mencerahkan pemuda Iran untuk bangkit menantang si penindas. Syah Pahlevi yang dzalim. Ia berpidato tentang Islam dan pembebasan tidak dimasjid, tidak pula di gedung parlemen. Tapi diruang perkuliahan yang beku dan kental berbau akademis itu ia mengungkapkan pandangannya yang cemerlang dan berpihak kepada orang-orang miskin dan kaum tertindas (Musthada’fin).
Ia meninggal dunia sebelum melihat buah perjuangannya beserta para Mujahid Iran. Namun manusia yang bermanfaat adalah sebaik-baik manusia (Hadist Nabi). Ia memberikan karya-karya kemanusiaannya dengan melahirkan beberapa buku diantaranya Haji, Membangun Masa Depan Islam, Peran Cendekiawan Muslim, dan Ideologi Kaum Intelektual. Disini kita sedikit banyak membedah salah satu karyanya yaitu Ideologi Kaum Intelektual.Dalam buku Ideologi Kaum Intelektual, Ali Syaria’ti mencoba mengupas apa itu Ideologi dan apa perannya bagi kaum intelektual khususnya dan rakyat tertindas pada umumnya dalam membangun sebuah peradaban yang mandiri tanpa diskriminasi dan dominasi klas.
Menurut Syaria’ti, intelektual adalah rausyan fikr, orang yang tercerahkan. Mereka adalah orang-orang yang berperan dalam melakukan perubahan struktur sosial yang mapan. Gelar ”intelektual” tidak hanya didapat dari bangku sekolah konvensional tapi setiap orang yang berperan dalam membawa perubahan bagi lingkungannya disebut rausyan fikr, para ulil albab, orang yang menggunakan akalnya untuk berfikir. Jadi disini pemaknaan gelar ”intelektual” diperluas. Menurut Syaria’ti, pemaknaan gelar ”intelektual” telah di konvensionalkan oleh beberapa pemikir barat sehingga ada reduksi makna gelar ”intelektual” padanya. Kita dan para manusia modern zaman sekarang menafsirkan kata ”intelektual” adalah gelar yang hanya didapat dalam bangku sekolah.


Dalam term (sudut pandang) kapitalis-modernis, golongan akademis dianggap sebagai pewaris tunggal predikat ”kaum intelektual”. Namun dalam term transformatif-emansipatoris, makna ”kaum intelektual” adalah mereka yang tidak hanya duduk dibangku sekolah saja, tetapi setiap orang yang berperan dalam melakukan penyadaran dan perubahan terhadap masyarakat kearah yang lebih baik tanpa mengenyam bangku kuliah pun disebut ”kaum Intelektual”.
Dalam Qura’n disebutkan bahwa Muhammad S.A.W adalah ummi. Ummi disini tidak dimaknai sebagai yang bodoh, tidak mampu baca-tulis. Tetapi ummi disini dimaknai sebagai rakyat tertindas. Lihat berapa jumlah masyarakat makkah yang tidak mampu baca-tulis waktu itu? Mereka kebanyakan adalah budak, golongan yang ditindas oleh golongan masyarakat lain dan dibandingkan orang-orang kaya makkah waktu itu, jumlah mereka lebih banyak. Mereka yang banyak dan tertindas itulah yang dikatakan Qura’n sebagai ummi, dan Muhammad bin Abdullah (salam sejahtera selalu untuknya) dikatakan terlahir sebagai yang ummi. Menurut Syaria’ti, ummi itu adalah simbol yang diberikan islam kepada manusia bahwa Rasulullah S.A.W adalah pemimpin kaum tertindas dan panutan bagi para pembebas. Bahwa Rasulullah adalah pemimpin yang lahir dari rahim rakyat.
Selanjutnya yang menjadi pertanyaan kita adalah, apa yang mendorong manusia-manusia tercerahkan itu untuk bangkit merubah struktur masyarakat yang timpang? Syaria’ti berpendapat bahwa yang mendorong seseorang manusia untuk bangkit merubah adalah adanya suatu bentuk kesadaran. Suatu bentuk kesadaran diri ini yang disebut sebagai Ideologi. Dalam strukturnya, tahapan-tahapan untuk mencetus suatu perubahan adalah  paradigma-ideologi-teori perubahan--organisasi/komunitas perubah-agitasi propoganda-revolusi.
Paradigma/term/pendekatan  adalah sudut pandang atau kaca mata seseorang dalam memandang sebuah persoalan. Terkait perubahan, paradigma perubahan terbagi kedalam dua macam yaitu paradigma Strukturalis dan paradigma Humanis. Paradigma strukturalis adalah sudut pandang yang dipakai dalam melihat suatu perubahan terjadi karena lingkungan. Setiap bentuk kesadaran diri dipengaruhi oleh dinamika lingkungan dan kontradiksi yang dihasilkannya. Paradigma humanis adalah sudut pandang yang dipakai dalam melihat suatu perubahan terjadi karena adanya kesadaran diri dari dalam diri manusia dan tanpa tekanan  dari lingkungan. Dari dua macam paradigma itu lahir ideologi .





Apa Ideologi kita ?
Dengan tegas aku katakan bahwa ideologi kaum intelektual muslim adalah Islam”  tulis Syaria’ti. Dalam perjalanan sejarah perjuangan sejak manusia diturunkan ke muka bumi, islam dengan seperangkat ajaran simboliknya mengambil peran sebagai kekuatan pembebas dalam mendobrak struktur masyarakat yang mapan. Ini yang menjadikan islam sebagai agama dan ideologi rahmatan lil alamin setiap waktu.
Ideologi kita islam, lalu islam dengan paradigma seperti apa ?
    Paradigma strukturalis yang kemudian disebut sebagai Islam Transformatif  jawabannya. Islam Transformatif menempatkan habluminannas sebagai wujud ketauhidan manusia terhadap Tuhan. Islam yang membebaskan inilah yang kemudian memandang bahwa ajaran-ajaran Tuhan tidak dapat terlaksana dengan baik selama masih terdapat suatu golongan menindas golongan lain. Maka kewajiban muslim adalah merubah itu dengan perjuangan dan pemberontakan untuk mengganti sistem yang ada dengan sistem yang adil.
Inilah tugas utama orang yang tercerahkan. Para intelektual muslim yang kemudian dengan berani menantang segala teori dan ilmu modern yang menindas. Setiap muslim haruslah berideologi dan itu adalah islam dengan paradigma transformatif. Ini merupakan kewajiban sebagai khoiru ummah.

[...]


Info: Kepada Semua Mahasiswa FEB UMS Angkatan 2013, bahwa pembagian sertifikat Masta dilaksanakan
Hari       : Ahad
Tanggal  : 16 Maret 2013
Tempat  : GOR FEB UMS

NB   :  Pembagian hanya dilayani hari itu juga.
dan Wajib Mengikuti Kajian
[...]



Milad IMM setengah abad yang diselenggarakan PC IMM Kota Surakarta kali ini bertemakan "Implementasi kepemimpinan Profetik"

Dengan beberapa agenda yang bisa anda lihat dalam pamflet gambar diatas.
Bravo Hatta
@imm_hatta

[...]